Apakah ada bullying di sekolah kita?
Hampir pasti ada — dan hampir pasti tidak terlihat oleh guru.
Kabar baiknya, bullying bisa dipahami dan bisa dicegah. Halaman ini merangkum yang perlu diketahui sekolah, guru, dan orang tua — termasuk mengapa bullying anak perempuan dan anak laki-laki perlu ditangani dengan cara dan kelas yang berbeda. Disusun dari pengalaman psikolog Hanlie Muliani dan pakar Australia Robert Pereira di ribuan kelas di dalam dan luar negeri.
Tidak semua pertengkaran adalah bullying. Sebuah perilaku disebut bullying bila memenuhi empat ciri.
Bullying (perundungan) adalah penyalahgunaan kekuasaan yang berulang dalam sebuah hubungan — secara verbal, fisik, sosial, maupun di ranah maya — yang menyebabkan kerugian fisik atau psikologis.
Tindakan agresif
Fisik (dipukul, didorong), verbal (diejek, dijuluki), sosial (dikucilkan), atau psikis (tatapan sinis, didiamkan).
Kekuatan tidak seimbang
Pelaku menganggap korban lebih lemah — secara fisik atau jumlah teman.
Pengulangan
Pelaku yang sama, korban yang sama, berulang kali — kadang setiap hari selama bertahun-tahun.
Kepuasan bagi pelaku
Pelaku merasa puas atau senang setelah menindas korban.
Yang bukan bullying
Salah menyebut sesuatu sebagai bullying membuat penanganan salah sasaran.
Konflik sesaat
Dua anak yang biasanya akur bertengkar sekali karena sebab jelas. Perlu ditangani, tapi bukan bullying.
Hukuman sosial
Teman-teman menjauhi anak karena perilakunya sendiri yang mengganggu. Yang perlu dibimbing adalah anak itu.
Pertengkaran setara
Konflik antara pihak yang kekuatannya seimbang, langsung maupun di ranah maya.
Bullying anak perempuan dan anak laki-laki tidak sama. Pemicunya berbeda, bentuknya berbeda, cara menanganinya pun harus berbeda.
Ini temuan yang konsisten dari ribuan kelas di berbagai negara. Karena itu, di setiap pelatihannya, Hanlie selalu memisahkan kelas putra dan kelas putri.
Pengasingan yang tersembunyi
- Bentuknya
- Mengucilkan, menghasut teman untuk menjauhi, lirikan sinis, didiamkan, pesan keji di chat dan media sosial.
- Pemicu utamanya
- Penampilan — lebih cantik, rambut lebih bagus, lebih langsing. Juga popularitas dan barang-barang baru.
- Mengapa sulit dideteksi
- Hampir tidak pernah dilakukan di depan guru. Di kelas, pelakunya bisa terlihat sopan dan manis.
"Oh, kami sudah berlima, maaf."
Ledekan yang mempermalukan
- Bentuknya
- Ledekan, julukan, merendahkan dan mempermalukan di depan teman, sering disertai kontak fisik.
- Pemicu utamanya
- Korban dianggap "berbeda" — tidak jago olahraga, kutu buku, terlalu sopan, atau warna kulitnya lebih gelap.
- Lebih mudah terlihat
- Suaranya keras, main fisik, bahkan berani berkomentar tidak pantas di depan guru — tapi sering dimaklumi sebagai "bercanda".
"Cowok kok nggak bisa main bola."
Karena itu, kelasnya dipisah.
Cerita yang relevanMurid harus bisa mengenali diri dalam cerita pembuka — dan ceritanya berbeda untuk putra dan putri.
Lebih berani bicaraAnak lebih jujur membicarakan penampilan, iri hati, atau rasa malu tanpa kehadiran lawan jenis.
Penyelesaian yang tepatPemicu yang berbeda butuh kesadaran baru yang berbeda pula.
Anak tahu bullying itu salah. Karena itu, mereka tidak melakukannya di depan orang dewasa.
Di sinilah bullying biasanya terjadi — jauh dari ruang guru:
Karena itu sekolah yang meminta "bukti" sering tidak pernah mendapatkannya. Dan bullying terjadi di semua jenis sekolah: swasta maupun negeri, agama maupun sekuler, nasional maupun internasional, lama maupun baru.
Waktu anak di sekolah setiap minggu. Cemas sepanjang waktu itu bisa berubah menjadi agresi, mogok sekolah, hingga depresi.
Dulu korban "lepas" sepulang sekolah. Kini, lewat ponsel dan media sosial, bullying mengikuti anak sampai ke kamarnya.
murid bukan pelaku dan bukan korban.
Mereka penonton — dan mereka yang paling tahu apa yang terjadi.
Pelaku dan korban hanya sekitar 5% dari populasi anak. Orang tua dan guru jarang melihat bullying, tapi teman sekelas melihatnya setiap hari. Pencegahan yang berhasil bukan hanya menghukum pelaku, tetapi memberdayakan para penonton untuk bersuara — sehingga pelaku kehilangan "panggungnya".
Empower the bystander!
Paradigma ABC: cara kita berpikir memengaruhi cara kita bertindak.
Ceramah "jadilah anak baik" tidak menghentikan bullying. Sejak 1992, Robert Pereira menggantinya dengan percakapan berbasis Cognitive Behavioral Therapy (Albert Ellis), seperti yang dipakai Martin Seligman. Pertanyaan intinya: mengapa anak mem-bully, padahal mereka tahu itu salah?
Activating Agents
Pemicu: apa dari diri korban yang membuat pelaku bereaksi? Sering kali korban sendiri tidak tahu.
Beliefs
Isi "balon pikiran" pelaku. Inilah kuncinya — di sinilah pola pikir yang salah bisa diubah.
Konsekuensi
Perasaan dan tingkah laku yang muncul — pada pelaku dan pada korban.
Thinking Green
"Apa yang harus disadari pelaku?" Jawabannya datang dari murid sendiri, di depan teman-temannya.
Seperti apa di kelas?
Tingkah laku:
Korban:
Contohnya dua karena kelasnya pun dua: cerita dan pembahasan untuk putri berbeda dengan untuk putra. Lihat mengapa.
Anak jarang bercerita. Tapi tubuh dan sikapnya sering "menyatakan masalah".
Bagi anak, mengaku di-bully itu memalukan. Anak yang berkata "aku bisa menghadapinya kok" sering kali justru menderita dalam keheningan.
Kalau anak Anda menjadi korban, jangan bertanya, "Apakah kamu melakukan sesuatu pada mereka?"
Ingat, anak Anda korban, bukan penjahat. Hindari juga sekadar memintanya "tabah" atau "cuekin saja".
Tanda yang perlu diwaspadai
- Mengeluh sakit di pagi hari, padahal tidak sakit
- Tiba-tiba minta pindah sekolah
- Anak kecil ingin tidur bersama orang tua lagi, atau kembali mengompol
- Kehilangan selera makan, mudah menangis atau cepat marah
- Wajah dan sikap tubuh tampak sedih, takut, atau cemas
Lalu? Sampaikan ke guru dengan detail dan fakta, bukan tuduhan. Kerja sama rumah–sekolah dimulai ketika kedua pihak sama-sama terbuka — termasuk bila ternyata anak kita yang menjadi pelaku.
Konseling satu-satu tidak cukup. Perubahan terjadi di kelas, tempat pelaku, korban, dan penonton berada bersama.
Guru dan konselor jarang dilatih menangani bullying. Paradigma ABC memberi struktur — dan kelas berisi 20–30 murid justru menjadi aset untuk perubahan.
Pelajaran Kontak Pertama
Fasilitator bercerita tentang dua anak — disesuaikan untuk TK hingga SMA — lalu bertanya: mengapa ia bersikap begitu?
Membaca balon pikiran
Dari jawaban murid, pemicu ditarik keluar, lalu kelas menebak isi pikiran pelaku.
Apa yang harus disadari?
Para penonton bersuara dan dicatat di papan. Pelaku di kelas kehilangan kuasanya.
Merasakan posisi korban
Kelas menggali pikiran dan perasaan korban untuk menumbuhkan empati.
Tiga tujuan setiap sesi
1. Mengembangkan empati kepada korban
2. Mengubah pola pikir yang salah pada pelaku
3. Memberdayakan mereka yang selama ini hanya menonton
Disusun dari ribuan sesi kelas dan ruang konseling.
Hanlie Muliani
Psikolog anak, remaja & pendidikan · Pendiri SoA
Psikologi Unika Atma Jaya dan Magister Profesi Psikolog Klinis UI. Membawakan bullying prevention class untuk ribuan murid, guru, dan orang tua di berbagai kota di Indonesia.
Robert Pereira
Pengembang metode · Mentor Hanlie · Australia
Konsultan bully-prevention yang sejak 1992 membawakan lebih dari 6.000 kelas di hadapan 165.000+ murid di 10 negara. Metodenya kini diteruskan oleh Hanlie di Indonesia.
Why Children Bully?
Hanlie Muliani & Robert Pereira · Penerbit Grasindo
Panduan untuk orang tua dan guru: mengapa anak mem-bully, girls bully dan boys bully, serta langkah demi langkah membawakan Paradigma ABC di rumah dan di kelas.
Bawa ke ruang guru, tempel di kelas, bagikan ke orang tua.
Materi siap cetak yang boleh dibagikan untuk keperluan pendidikan.
- Poster: 4 ciri bullying · A3, untuk kelas & ruang guru
- Checklist: tanda anak di-bully · 1 halaman, untuk orang tua
- Lembar kerja Paradigma ABC · untuk guru & konselor
Ingin sesi ini dibawakan langsung di sekolah Anda?
Kelas untuk murid, pelatihan guru, dan seminar orang tua oleh tim SoA — di Jabodetabek maupun luar kota.