Untuk sekolah, guru, dan orang tua

Apakah ada bullying di sekolah kita?

Hampir pasti ada — dan hampir pasti tidak terlihat oleh guru.

Kabar baiknya, bullying bisa dipahami dan bisa dicegah. Halaman ini merangkum yang perlu diketahui sekolah, guru, dan orang tua — termasuk mengapa bullying anak perempuan dan anak laki-laki perlu ditangani dengan cara dan kelas yang berbeda. Disusun dari pengalaman psikolog Hanlie Muliani dan pakar Australia Robert Pereira di ribuan kelas di dalam dan luar negeri.

Uji cepat: bullying atau bukan? Kasus 1 dari 4

1 · Apa itu bullying

Tidak semua pertengkaran adalah bullying. Sebuah perilaku disebut bullying bila memenuhi empat ciri.

Bullying (perundungan) adalah penyalahgunaan kekuasaan yang berulang dalam sebuah hubungan — secara verbal, fisik, sosial, maupun di ranah maya — yang menyebabkan kerugian fisik atau psikologis.

1

Tindakan agresif

Fisik (dipukul, didorong), verbal (diejek, dijuluki), sosial (dikucilkan), atau psikis (tatapan sinis, didiamkan).

2

Kekuatan tidak seimbang

Pelaku menganggap korban lebih lemah — secara fisik atau jumlah teman.

3

Pengulangan

Pelaku yang sama, korban yang sama, berulang kali — kadang setiap hari selama bertahun-tahun.

4

Kepuasan bagi pelaku

Pelaku merasa puas atau senang setelah menindas korban.

Yang bukan bullying

Salah menyebut sesuatu sebagai bullying membuat penanganan salah sasaran.

Konflik sesaat

Dua anak yang biasanya akur bertengkar sekali karena sebab jelas. Perlu ditangani, tapi bukan bullying.

Hukuman sosial

Teman-teman menjauhi anak karena perilakunya sendiri yang mengganggu. Yang perlu dibimbing adalah anak itu.

Pertengkaran setara

Konflik antara pihak yang kekuatannya seimbang, langsung maupun di ranah maya.

2 · Putra dan putri berbeda

Bullying anak perempuan dan anak laki-laki tidak sama. Pemicunya berbeda, bentuknya berbeda, cara menanganinya pun harus berbeda.

Ini temuan yang konsisten dari ribuan kelas di berbagai negara. Karena itu, di setiap pelatihannya, Hanlie selalu memisahkan kelas putra dan kelas putri.

Anak perempuan

Pengasingan yang tersembunyi

Bentuknya
Mengucilkan, menghasut teman untuk menjauhi, lirikan sinis, didiamkan, pesan keji di chat dan media sosial.
Pemicu utamanya
Penampilan — lebih cantik, rambut lebih bagus, lebih langsing. Juga popularitas dan barang-barang baru.
Mengapa sulit dideteksi
Hampir tidak pernah dilakukan di depan guru. Di kelas, pelakunya bisa terlihat sopan dan manis.

"Oh, kami sudah berlima, maaf."

Anak laki-laki

Ledekan yang mempermalukan

Bentuknya
Ledekan, julukan, merendahkan dan mempermalukan di depan teman, sering disertai kontak fisik.
Pemicu utamanya
Korban dianggap "berbeda" — tidak jago olahraga, kutu buku, terlalu sopan, atau warna kulitnya lebih gelap.
Lebih mudah terlihat
Suaranya keras, main fisik, bahkan berani berkomentar tidak pantas di depan guru — tapi sering dimaklumi sebagai "bercanda".

"Cowok kok nggak bisa main bola."

Karena itu, kelasnya dipisah.

Cerita yang relevanMurid harus bisa mengenali diri dalam cerita pembuka — dan ceritanya berbeda untuk putra dan putri.

Lebih berani bicaraAnak lebih jujur membicarakan penampilan, iri hati, atau rasa malu tanpa kehadiran lawan jenis.

Penyelesaian yang tepatPemicu yang berbeda butuh kesadaran baru yang berbeda pula.

3 · Mengapa tak terlihat

Anak tahu bullying itu salah. Karena itu, mereka tidak melakukannya di depan orang dewasa.

Di sinilah bullying biasanya terjadi — jauh dari ruang guru:

ToiletKantinKelas yang sepiGudang sekolahLorong & tanggaTempat les & ekskulGrup chat & media sosial

Karena itu sekolah yang meminta "bukti" sering tidak pernah mendapatkannya. Dan bullying terjadi di semua jenis sekolah: swasta maupun negeri, agama maupun sekuler, nasional maupun internasional, lama maupun baru.

40–48 jam

Waktu anak di sekolah setiap minggu. Cemas sepanjang waktu itu bisa berubah menjadi agresi, mogok sekolah, hingga depresi.

Tanpa jeda

Dulu korban "lepas" sepulang sekolah. Kini, lewat ponsel dan media sosial, bullying mengikuti anak sampai ke kamarnya.

95%

murid bukan pelaku dan bukan korban.

4 · Kabar baik

Mereka penonton — dan mereka yang paling tahu apa yang terjadi.

Pelaku dan korban hanya sekitar 5% dari populasi anak. Orang tua dan guru jarang melihat bullying, tapi teman sekelas melihatnya setiap hari. Pencegahan yang berhasil bukan hanya menghukum pelaku, tetapi memberdayakan para penonton untuk bersuara — sehingga pelaku kehilangan "panggungnya".

Empower the bystander!

5 · Bagaimana mencegahnya

Paradigma ABC: cara kita berpikir memengaruhi cara kita bertindak.

Ceramah "jadilah anak baik" tidak menghentikan bullying. Sejak 1992, Robert Pereira menggantinya dengan percakapan berbasis Cognitive Behavioral Therapy (Albert Ellis), seperti yang dipakai Martin Seligman. Pertanyaan intinya: mengapa anak mem-bully, padahal mereka tahu itu salah?

A

Activating Agents

Pemicu: apa dari diri korban yang membuat pelaku bereaksi? Sering kali korban sendiri tidak tahu.

B

Beliefs

Isi "balon pikiran" pelaku. Inilah kuncinya — di sinilah pola pikir yang salah bisa diubah.

C

Konsekuensi

Perasaan dan tingkah laku yang muncul — pada pelaku dan pada korban.

✓

Thinking Green

"Apa yang harus disadari pelaku?" Jawabannya datang dari murid sendiri, di depan teman-temannya.

Seperti apa di kelas?

A · Pemicu

B · Balon pikiran

C · Konsekuensi

Tingkah laku:

Korban:

Thinking Green — kata murid

Contohnya dua karena kelasnya pun dua: cerita dan pembahasan untuk putri berbeda dengan untuk putra. Lihat mengapa.

6 · Untuk orang tua

Anak jarang bercerita. Tapi tubuh dan sikapnya sering "menyatakan masalah".

Bagi anak, mengaku di-bully itu memalukan. Anak yang berkata "aku bisa menghadapinya kok" sering kali justru menderita dalam keheningan.

Kalau anak Anda menjadi korban, jangan bertanya, "Apakah kamu melakukan sesuatu pada mereka?"

Ingat, anak Anda korban, bukan penjahat. Hindari juga sekadar memintanya "tabah" atau "cuekin saja".

Tanda yang perlu diwaspadai

  • Mengeluh sakit di pagi hari, padahal tidak sakit
  • Tiba-tiba minta pindah sekolah
  • Anak kecil ingin tidur bersama orang tua lagi, atau kembali mengompol
  • Kehilangan selera makan, mudah menangis atau cepat marah
  • Wajah dan sikap tubuh tampak sedih, takut, atau cemas

Lalu? Sampaikan ke guru dengan detail dan fakta, bukan tuduhan. Kerja sama rumah–sekolah dimulai ketika kedua pihak sama-sama terbuka — termasuk bila ternyata anak kita yang menjadi pelaku.

7 · Untuk guru & sekolah

Konseling satu-satu tidak cukup. Perubahan terjadi di kelas, tempat pelaku, korban, dan penonton berada bersama.

Guru dan konselor jarang dilatih menangani bullying. Paradigma ABC memberi struktur — dan kelas berisi 20–30 murid justru menjadi aset untuk perubahan.

FASE 1

Pelajaran Kontak Pertama

Fasilitator bercerita tentang dua anak — disesuaikan untuk TK hingga SMA — lalu bertanya: mengapa ia bersikap begitu?

FASE 2

Membaca balon pikiran

Dari jawaban murid, pemicu ditarik keluar, lalu kelas menebak isi pikiran pelaku.

FASE 3

Apa yang harus disadari?

Para penonton bersuara dan dicatat di papan. Pelaku di kelas kehilangan kuasanya.

FASE 4

Merasakan posisi korban

Kelas menggali pikiran dan perasaan korban untuk menumbuhkan empati.

Tiga tujuan setiap sesi

1. Mengembangkan empati kepada korban

2. Mengubah pola pikir yang salah pada pelaku

3. Memberdayakan mereka yang selama ini hanya menonton

8 · Pakar & buku

Disusun dari ribuan sesi kelas dan ruang konseling.

[FOTO Hanlie]

Hanlie Muliani

Psikolog anak, remaja & pendidikan · Pendiri SoA

Psikologi Unika Atma Jaya dan Magister Profesi Psikolog Klinis UI. Membawakan bullying prevention class untuk ribuan murid, guru, dan orang tua di berbagai kota di Indonesia.

[FOTO Robert]

Robert Pereira

Pengembang metode · Mentor Hanlie · Australia

Konsultan bully-prevention yang sejak 1992 membawakan lebih dari 6.000 kelas di hadapan 165.000+ murid di 10 negara. Metodenya kini diteruskan oleh Hanlie di Indonesia.

[COVER BUKU]

Why Children Bully?

Hanlie Muliani & Robert Pereira · Penerbit Grasindo

Panduan untuk orang tua dan guru: mengapa anak mem-bully, girls bully dan boys bully, serta langkah demi langkah membawakan Paradigma ABC di rumah dan di kelas.

Tentang buku & penulis[Isi link toko buku di Sesuaikan › Foto & Buku]
9 · Materi gratis

Bawa ke ruang guru, tempel di kelas, bagikan ke orang tua.

Materi siap cetak yang boleh dibagikan untuk keperluan pendidikan.

  • Poster: 4 ciri bullying · A3, untuk kelas & ruang guru
  • Checklist: tanda anak di-bully · 1 halaman, untuk orang tua
  • Lembar kerja Paradigma ABC · untuk guru & konselor
Materi sedang disiapkan.   Kabari saya via WhatsApp

Ingin sesi ini dibawakan langsung di sekolah Anda?

Kelas untuk murid, pelatihan guru, dan seminar orang tua oleh tim SoA — di Jabodetabek maupun luar kota.

Lihat program untuk sekolah