Orang tua

Anak mengeluh sakit setiap pagi? Kenali tanda anak di-bully

Anak jarang bercerita bahwa ia di-bully. Tapi tubuh dan sikapnya sering memberi sinyal — dan ada satu pertanyaan yang sebaiknya tidak Anda ajukan.

“Ma, aku sakit perut.” Kalimat itu muncul lagi pagi ini, tepat sebelum berangkat sekolah. Siangnya, di rumah, anak tampak baik-baik saja. Banyak orang tua menganggapnya malas atau manja. Padahal, bisa jadi ini cara anak mengatakan sesuatu yang tidak sanggup ia ucapkan langsung.

Mengapa anak jarang bercerita

Bagi anak, mengaku di-bully itu memalukan. Anak yang berkata, “Aku bisa menghadapinya kok,” sering kali justru tidak bisa. Mereka menderita dalam keheningan.

Bullying juga sengaja dilakukan saat tidak ada orang dewasa — di toilet, kantin, lorong, atau di grup chat pukul sembilan malam. Guru sering tidak tahu. Saat akhirnya ada yang menyadari, anak mungkin sudah menderita berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Karena itu, orang tua sering menjadi orang dewasa pertama yang bisa menangkap tanda-tandanya.

Tanda-tanda yang perlu diwaspadai

Kami menyebutnya perilaku yang “menyatakan masalah”. Perhatikan bila anak:

  • Mengeluh tidak enak badan di pagi hari, padahal tidak sakit
  • Tiba-tiba minta pindah sekolah, di saat yang terasa janggal
  • Ingin tidur bersama orang tua lagi, atau kembali mengompol (pada anak yang lebih kecil)
  • Kehilangan selera makan
  • Mudah menangis atau cepat marah
  • Wajah dan sikap tubuhnya tampak sedih, takut, atau cemas
  • Tidak kooperatif pada kegiatan yang biasanya ia jalani dengan mudah

Satu tanda belum tentu berarti bullying. Tapi bila beberapa muncul bersamaan dan berlangsung terus, saatnya bertanya — dengan cara yang tepat.

Satu pertanyaan yang sebaiknya tidak diajukan

“Apakah kamu melakukan sesuatu pada mereka?”

Pertanyaan ini terdengar wajar, tapi bagi anak artinya: kamu yang salah. Ingat, anak Anda korban, bukan penjahat.

Hindari juga meminta anak sekadar “tabah”. Bayangkan rasanya menjadi anak usia 7, 10, atau 14 tahun yang menerima perlakuan itu setiap hari. Bagi anak, pengalaman seperti ini bisa traumatis.

Berhenti saling menyalahkan

Wajar bila reaksi pertama orang tua adalah menyalahkan sekolah. Tapi guru tidak punya mata bionik — kebanyakan memang tidak melihatnya. Yang menolong anak adalah kerja sama, dan kerja sama dimulai ketika kedua pihak terbuka.

  • Orang tua: sampaikan kepada guru detail, fakta, dan kekhawatiran Anda. Bila sekolah melaporkan anak Anda sebagai pelaku, dengarkan — jangan langsung menyangkal.
  • Sekolah: terima informasi dari orang tua tanpa langsung berkata “kami tidak punya bukti”. Bukti bullying memang jarang bisa didapat.

Ajak bicara, bukan diceramahi

Saat merasa tidak berdaya, orang dewasa cenderung memilih satu dari dua ekstrem: bersikap otoriter, atau diam karena tidak yakin. Di antara keduanya ada jalan tengah: percakapan timbal balik.

Ajak anak menceritakan apa yang terjadi (A), apa yang ia pikirkan tentang dirinya setelah itu (B), dan apa yang ia rasakan (C). Sering kali anak sampai pada keyakinan “ada yang salah dengan diriku”. Tugas kita membantunya melihat bahwa kesalahan bukan berasal dari dirinya.

Kapan mencari bantuan profesional?

Bila anak menolak sekolah berhari-hari, tampak putus asa, atau berkata bahwa “tidak ada gunanya”, jangan menunggu. Konsultasikan dengan psikolog SoA atau layanan kesehatan jiwa terdekat.

Ingin sesi pencegahan bullying di sekolah Anda?

Kelas untuk murid, pelatihan guru, dan seminar orang tua oleh tim SoA.

Lihat program